Batu Empedu – Penyebab, Faktor risiko, Gejala, Komplikasi

4 min read

Batu empedu

Definisi

Apa sih batu empedu itu?

Di dalam kantung empedu terdapat cairan yang disebut sebagai empedu dan berperan dalam pencernaan lemak. ketika cairan empedu tersebut mengeras batu empedu akan terbentuk . Ukuran batu yang terbentuk bisa bermacam-macam, mulai dari yang sekecil butiran pasir hingga sebesar bola pingpong.

Cairan empedu yang mengeras dan menjadi batu tersebut memiliki jumlah dan ukuran yang bervariasi. Seseorang bisa memiliki banyak batu, atau bisa juga hanya memiliki satu batu pada kantong empedu.

Penyakit batu empedu merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi. Kondisi ini biasanya terjadi pada orang tua, wanita, dan orang dengan berat badan berlebih (obesitas).

Wanita lebih cenderung lebih rentan mengalami penyakit ini karena pengaruh hormon estrogen. Pada wanita, hormon estrogen yang dimiliki, dapat meningkatkan jumlah kolesterol dalam empedu dan menurunkan kontraksi kandung empedu untuk mengosongkan empedu.

Adanya batu empedu di dalam kantung empedu biasanya tidak menimbulkan gejala. Namun jika batu empedu berukuran terlalu besar dan sudah menyebabkan penyumbatan, biasanya akan merasakan sakit pada perut kanan bagian atas atau perut tengah (tepat di bawah tulang dada) yang datang tiba-tiba dan berlangsung selama beberapa menit hingga hitungan jam.

Dalam banyak kasus, penyakit batu empedu ini lebih sering ditemukan terjadi pada penduduk asli Amerika dan orang Meksiko di Amerika Latin. Meski begitu, ada beberapa faktor risiko yang mungkin dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini meski bukan berasal dari wilayah tersebut.

Jenis-jenis

Terdapat 2 jenis batu empedu, di antaranya:

  • Batu kolesterolJenis yang paling umum, sering juga disebut dengan batu kolesterol karena warnanya yang terlihat kekuningan. Batu kolesterol mengandung kumpulan kolesterol yang tidak dapat dicerna dan beberapa senyawa lainnya.
  • Batu pigmenBerbeda dengan batu kolesterol, jenis ini berwarna coklat tua dan hitam karena mengandung bilirubin yang berlebihan.

Sebagian besar penyakit batu empedu atau cholelithiasis (kolelitiasis) bersifat ringan dan tidak membutuhkan penanganan di rumah sakit. Namun jika kolelitiasis menyumbat saluran empedu, upaya penanganan perlu segera dilakukan untuk mencegah komplikasi.

Penyebab

Berdasarkan catatan Harvard Health Publications, sebanyak 80% kasus kolelitiasis disebabkan oleh penumpukan kolesterol, sedangkan penyebab kolelitiasis sisanya merupakan pengerasan kalsium garam dan bilirubin. Proses memadatnya lemak maupun bilirubin di dalam kantung empedu sendiri tidak bisa diketahui secara pasti.

Batu empedu juga bisa disebabkan :

  • Pola diet yang salah seperti konsumsi makanan tinggi kolesterol. Contohnya seperti hati ayam, otak, kuning telur, udang, paha ayam dan makanan cepat saji.
  • Proses saturasi garam empedu di kantung empedu tidak berjalan dengan baik. Pada beberapa keadaan bahkan batu tersebut dapat menyumbat saluran empedu utama.

Faktor risiko

Lalu, apa saja yang menjadi faktor risiko pada seseorang?

  • Usia, kolelitiasis umumnya dialami oleh orang yang berusia di atas 40 tahun.
  • Jenis kelamin, Risiko perempuan terkena kolelitiasis lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki-laki.
  • Kesuburan, Wanita yang sudah pernah melahirkan cenderung lebih berisiko untuk terkena kolelitiasis. Risiko ini dipengaruhi oleh hormon estrogen.
  • Berat badan. Orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas berisiko lebih besar untuk terkena kolelitiasis.
  • Konsumsi obat-obatan penurun kolesterol, obat yang mengandung estrogen, atau antibiotik tertentu yang digunakan untuk mengobati infeksi.
  • Memiliki kondisi medis tertentu seperti diabetes, infeksi hati atau sirosis.
  • Memiliki anggota keluarga, seperti orangtua, saudara kandung, kakek, dan nenek dengan riwayat penyakit ini.
  • Kekurangan serat dalam pola makanan.
  • Dampak melahirkan. Wanita yang pernah melahirkan memiliki risiko lebih tinggi. Perubahan hormon pada masa kehamilan bisa saja meningkatkan kadar kolesterol, dan menjadi penyebab kolelitiasis.
  • Pemakaian pil kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko terbentuknya batu kandung empedu pada wanita.

Tanda dan gejala

Kondisi penyakit batu empedu (kolelitiasis) yang ringan jarang menimbulkan gejala. Penderita akan mulai merasakan gejala jika saluran empedu tersumbat akibat pengendapan batu empedu.

Gejala sakit batu empedu sangat beragam. Namun, umumnya orang yang terserang penyakit ini akan mengalami gejala seperti:

  • Nyeri mendadak dan terus-menerus pada perut kanan atas
  • Sakit perut bagian tengah, di bawah tulang dada
  • Nyeri punggung di antara tulang bahu Anda
  • Nyeri di bahu kanan
  • Demam
  • BAB dempul, berwarna putih atau pucat
  • Mual dan muntah
  • Sakit kuning (warna kekuningan pada kulit dan mata).
  • Detak jantung yang cepat.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Sering bersendawa.

Pencegahan

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena penyakit batu empedu, di antaranya:

  • Jangan menunda makan, Cobalah berusaha untuk makan tepat pada waktunya. Menunda atau justru melewatkan makan dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit satu ini.
  • Turunkan berat badan secara perlahan, Jika Anda memiliki berat badan berlebih atau obesitas, berusahalah untuk menurunkan berat badan guna mencapai berat yang ideal. Namun ingat penurunan berat badan yang Anda lakukan harus diimbangi dengan olahraga dan asupan makanan yang tepat.
  • Perhatikan asupan makanan, Penyakit batu empedu dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan sehat dan kaya akan serat, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
  • Hindari makanan yang memicu batuan empedu terbentuk, seperti makanan berlemak. Menjaga berat badan dengan melakukan diet sehat juga dapat menurunkan risiko penyakit ini.
  • Olahraga teratur, Olahraga secara rutin memegang peranan penting untuk menjaga kesehatan Anda secara keseluruhan, termasuk agar terhindar dari penyakit satu ini. Seperti yang sudah disebutkan di atas, obesitas adalah salah satu faktor risiko penyebab batu empedu.
  • Mengonsumsi minyak zaitun, Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi minyak zaitun sekitar 2 sendok makan sehari dapat menurunkan risiko terbentuknya batuan empedu.

Baca Juga : Cara Pola Hidup Sehat

Pengobatan

Beberapa pengobatan untuk meredakan gejala batuan empedu di antaranya:

Obat asam empedu

Jika gejala tidak terlalu parah dan kristal yang terbentuk di dalam empedu belum begitu besar, penggunaan obat-obatan bisa membantu.

Selain obat pereda nyeri, dokter mungkin juga akan memberikan resep obat asam empedu.

Obat asam empedu mengandung beberapa bahan kimia tertentu seperti chenodiol atau  ursodiol yang telah terbukti mampu melarutkan batu empedu. Obat ini tersedia dalam pil asam empedu oral.

Obat-obatan ini bekerja dengan cara mengikis sehingga memungkinkan batu empedu pecah lalu larut terbawa urin. Bagi banyak orang pil ini dapat ditoleransi dengan baik.

Suntikan MTBE

Pilihan perawatan yang satu ini dengan menyuntikan pelarut yang dikenal sebagai metil tersier-butil eter (MTBE).

Pelarut tersebut akan disuntikkan ke kantong empedu untuk menghancurkan batu empedu yang terbentuk. Penelitian telah menunjukkan bahwa MTBE efektif melarutkan kristal yang terbentuk di empedu.

Sama seperti prosedur medis lainnya, suntik MTBE juga memiliki beberapa efek samping. Bahkan efek samping yang paling serius bisa menyebabkan rasa terbakar parah.

Oleh karena itu, jika Anda ingin menggunakan metode suntik MTBE sebagai perawatan batu empedu, pastikan untuk mencari tahu semua informasi tentang prosedur ini.

Baca Juga : Gejala Batu Empedu Yang Harus Anda Waspadai Sejak Dini!

Terapi Extracorporeal Shock Wave Lithotrips (ESWL)

Extracorporeal Shock Wave Lithotrips (ESWL) adalah salah satu pilihan pengobatan batu empedu tanpa operasi. Terapi ini paling efektif jika koletiasis soliter masih berdiameter kurang dari 2 sentimeter.

Tujuan pengobatan ini adalah untuk menghancurkan batu empedu dengan mengirimkan gelombang kejut (shockwave) melalui jaringan lunak tubuh.

Endoscopic retrograde cholangio-pancreatography (ERCP)

Penyumbatan akibat batu pada saluran empedu bisa dilakukan juga dengan prosedur Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP).

Prosedur ini bertujuan untuk menghilangkan batu empedu tanpa mengangkat kantong empedu bagi mereka yang kondisinya tidak cukup kuat untuk menjalani prosedur operasi.

Prosedur ini bisa memakan waktu sekitar 30-60 menit, atau lebih cepat. Lamanya waktu prosedur akan tergantung pada kondisi pasien serta tingkat kesulitan yang dialami dokter ketika melakukan prosedur.

Setelah menjalani prosedur ini, pasien umumnya harus menginap satu malam di rumah sakit untuk pemantauan kondisi.

Baca Juga: Manfaat Minyak Zaitun Untuk Batu Empedu

Operasi

Operasi biasanya menjadi pilihan terbaik apabila berbagai cara di atas tidak juga membuat kondisi Anda membaik dan gejala koletiasis yang Anda alami cenderung serius.

Biasanya prosedur medis satu ini dianjurkan jika koletiasis terus kembali terbentuk. Jika kantong empedu Anda diambil, cairan empedu akan mengalir langsung dari hati ke usus kecil Anda.

Metode operasi pengangkatan kantung empedu yang paling sering dilakukan dokter adalah kolesistektomi laparoskopik, alias operasi lubang kunci.

Prosedur ini tidak akan melibatkan sayatan besar. Dokter akan membuat satu sayatan kecil di sekitar pusar, dan dua atau tiga sayatan lainnya dengan ukuran yang lebih kecil di sebelah kanan perut. Meski begitu operasi ini tetap membutuhkan bius total, sehingga Anda tidak akan berada dalam kondisi sadar selama tindakan.

Komplikasi

Kolelitiasis tentunya bisa menyebabkan komplikasi pada tubuh, meskipun hal tersebut jarang terjadi. Contohnya, cholangitis, pankreatitis akut, sepsis, atau inflamasi kantong empedu (kolesistitis).

Kapan harus ke dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala di atas, segera konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan cepat mendapat penanganan yang tepat.

Add a Comment