Kenali Darah Tinggi Sebelum Menyerang Anda

3 min read

Tekanan darah tinggi

Apa itu hipertensi atau tekanan darah tinggi?

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu pnyakit yang jarang menimbulkan gejala atau tanda akan menyerang tubuh anda. Kondisi ini juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi Kesehatan yang parah seperti meningkatkan risiko jantung, stroke, hingga kematian.

Sulit mengetahui seseorang terkena hipertensi tanpa mengukur tekanan darah, hasil dari tes tekanan darah ditulis dalam dua angka. Angka pertama (sistolik) mewakili tekanan dalam pembuluh darah Ketika jantung berdetak. Angka kedua (diastolic) mewakili tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung beristirahat anatara detak jantung.

Dalam pencatatannya, tekanan darah sistolis ditulis lebih dulu dari tekanan darah diastoli, dan memiliki angka yang lebih tinggi. Menurut perkumpulan dokter jantung di Amerika Serikat AHA, pada tahun 2017, angka normal tekanan darah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Normal: berada di bawah 120/80 mmHg.
  • Meningkat: berkisar antara 120-129 untuk tekanan sistolik dan < 80 mmHg untuk tekanan diastolik.
  • Hipertensi tingkat 1: 130/80 mmHg hingga 139/89 mmHg.
  • Hipertensi tingkat 2: 140/90 atau lebih tinggi.

dari berbagai kemungkinan terkena darah tinggi anda juga haru mengetahui tanda dan gejala darah tinggi

Tanda dan gejala hipertensi

Kebanyakan orang dengan tekanan darah tinggi tidak memiliki tanda atau gejala tertentu. Bahkan beberapa orang tidak merasakan gejala hingga tekanan darah mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Pada sebagian orang lainnya, akan merasakan beberapa gejala yang ditimbulkan. Gejala yang muncul yaitu:

  • Sakit kepala.
  • Lemas.
  • Pusing
  • Mual
  • Telinga sering berdenging
  • Masalah dalam penglihatan.
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Aritmia
  • Sering merasa kebingungan
  • Adanya darah dalam urine.
  • Detak jantung tidak teratur
  • Kelelahan
  • Sulit bernapas

Siapa yang beresiko terkena hipertensi?

Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, lebih dari 25% penduduk Indonesia yang berusia di atas 18 tahun menderita tekanan darah tinggi dan prehipertensi.

Sebagian besar kasus tekanan darah tinggi pada usia remaja diklasifikasikan sebagai hipertensi primer. Sama halnya dengan orang dewasa, penyebab hipertensi primer tidak sepenuhnya dipahami. Beberapa remaja dapat mewarisi kecenderungan terkena tekanan darah tinggi dari orangtua mereka, sementara yang lain menjadi korban gaya hidup yang buruk, dan dapat mengakibatkan obesitas dan bentuk tubuh tidak ideal yang istilahnya disebut dokter sebagai “menurunnya kebugaran kardiovaskular”.

Pada beberapa kasus, hipertensi pada remaja didasari oleh kondisi medis tertentu yang sudah lebih dulu dideritanya, seperti penyakit jantung maupun ginjal.

Ada beberapa kondisi yang dapat memicu tekanan darah tinggi, di antaranya:

  • Berusia lebih dari 65 tahun
  • Mengalami obesitas atau kelebihan berat badan
  • Memiliki keluarga yang mengidap tekanan darah tinggi
  • Mengkonsumsi terlalu banyak garam dan kekurangan buah dan sayuran
  • Tidak melakukan olahraga teratur
  • Mengkonsumsi banyak alkohol atau kopi (atau minuman kafeina lain) 
  • Merokok
  • Kurang tidur atau mengalami kesulitan tidur
  • Masalah ginjal (penyakit ginjal, infeksi ginjal jangka panjang, penyempitan arteri yang memasuki ginjal)
  • Diabetes
  • Obstructive sleep apnea (gangguan tidur dimana penderita berhenti bernapas sesaat)
  • Masalah hormon, seperti hipertiroid, sindrom Cushing, akromegali, peningkatan kadar hormon aldosteron (hiperaldosteronism) dan gangguan kelenjar adrenal (feokromositoma)
  • Lupus (suatu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang bagian tubuh seperti kulit, persendian dan organ)
  • Skleroderma (suatu kondisi yang menyebabkan kulit menebal, dan kadang-kadang menyebabkan permasalahan di organ dan pembuluh darah)

Baca Juga: Jenis Makanan Penyebab Darah Tinggi

Apa saja obat darah tinggi yang dianjurkan?

Beberapa jenis obat darah tinggi yang dianjurkan oleh dokter umumnya meliputi:

  • Diuretik, Diuretik bekerja dengan membantu ginjal mengeluarkan air dan sodium, sehingga volume darah berkurang. Contoh obat diuretik adalah hydrochlorothiazide.
  • Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, Jenis obat ini bekerja dengan mencegah formasi suatu zat kimia yang mempersempit pembuluh darah, sehingga pembuluh darah lebih lebar dan aliran darah menjadi lebih lancar. Contoh obat dalam kategori ini adalah lisinopril dan captopril.
  • Angiotensin II receptor blockers (ARBs), Kegunaan obat ini sama dengan ACE inhibitor, yaitu memperlebar pembuluh darah. Hanya saja cara kerjanya berbeda. ARB akan menangkal efek dari zat kimia yang mempersempit pembuluh darah. Beberapa contoh obat ARB meliputi candesartan dan losartan.
  • Calcium channel blocker atau antagonis kalsium, Obat jenis ini mengendurkan otot pembuluh darah, dan juga dapat menurunkan detak jantung. Beberapa jenis obat ini termasuk amlodipine dan diltiazem. Dalam menggunakan obat, panduan dokter sangat penting karena beberapa obat memiliki efek samping maupun interaksi dengan makanan yang perlu diperhatikan.
  • Beta-blocker, Golongan obat yang digunakan untuk menangani beragam kondisi pada jantung. Penghambat beta sering disebut agen penghambat beta-adrenergik. contohnya, atenolol, propranolol, metoprolol, nadolol, betaxolol, acebutolol, bisoprolol, esmilol, nebivolol, dan sotalol)
  • Penghambat saluran kalsium: amlodipine, clevidipine, diltiazem, felodipine, isradipine, nicardipine, nifedipine, nimodipine, dan nisoldipine)
  • Alfa-blocker: doxazosin, terazosin hydrochloride, dan prazosin hydrochloride

Pengobatan dirumah

Apa saja perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertensi?

Penurunan tekanan darah hingga 2 mmHg bisa mengurangi 7 persen risiko kematian akibat serangan jantung dan 10% risiko kematian akibat stroke
Di sisi lain, gejala hipertensi tidak selalu harus ditangani dengan obat-obatan medis.

Di samping konsumsi obat-obatan, Anda juga harus melakukan perubahan gaya hidup menjadi sehat. Beberapa perubahan gaya hidup positif yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengatasi tekanan darah tinggi adalah:

  • Diet seimbang dan rendah garam
  • Olahraga teratur
  • Tidak merokok, tidak minum alcohol, dan kafein
  • Berusaha menurunkan berat badan jika Anda mengalami obesitas
  • Berolahraga teratur
  • Beristirahat cukup
  • Mengonsumsi makanan sehat.
  • Menghindari konsumsi minuman bersoda.
  • Kurangi juga makanan yang tinggi lemak jenuh, kolesterol, dan lemak trans.
  • Perbanyak konsumsi buah, sayur, dan produk susu rendah lemak.
  • Tingkatkan asupan nutrisi dari biji-bijian utuh, ikan, unggas, dan kacang-kacangan.

Baca juga : 14 Jenis buah Penurun Darah Tinggi

Kapan harus ke dokter?

Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir dampak buruk lainnya, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Untuk melakukan pemeriksaan.

Komplikasi hipertensi

Tekanan darah tinggi juga bisa merusak pembuluh darah dan organ-organ lain di dalam tubuh. Jika dibiarkan tanpa penanganan, hipertensi bisa menimbulkan penyakit-penyakit atau komplikasi serius, seperti:

  • Aterosklerosis
  • Kehilangan penglihatan
  • Terbentuk aneurisma
  • Gagal ginjal

Baca Juga : Asam Urat – Tanda & Gejala, Penyebab, Pantangan

Referensi:
WHO. http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_prevalence/en/
Harvard Health. Diakses pada 2020. High Blood pressure (Hypertension).
Mayo Clinic (2019). 10ways to control high blood pressure without medication.
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/6530-pulmonary-hypertension-ph
Porter, Robert. Kaplan Justin. Homeier Barbara. The Merck manual home health handbook. New Jersey: JohnWiley & Sons, Inc, 2009. Printed. Page 333

Add a Comment