Kolesterol LDL: Apakah Berbahaya?

2 min read

kolesterol LDL

Kolesterol LDL

Terdapat penelitian yang menentang “hipotesis kolesterol” menyimpulkan bahwa manfaat dari statin telah dilebih-lebihkan dan kolesterol “buruk” tidak selamanya buruk bagi tubuh.

Anda mungkin pernah mendengar tentang dua jenis kolesterol. Kolesterol HDL atau biasa disebut dengan kolesterol baik dan kolesterol LDL atau yang biasa disebut dengan kolesterol buruk.

Gagasan bahwa peningkatan kolesterol LDL berkontribusi terhadap banyak masalah kesehatan, seperti penyakit kardiovaskular, adalah inti dari “hipotesis kolesterol”.

“Ternyata, tidak terlalu buruk.” kata Dr. Robert Lustig, seorang ahli endokrinologi pediatrik dari Universitas California, San Francisco.

Pada istilah teknisnya, kolesterol jahat diyakini bersifat aterogenik, atau dapat menyebabkan pembentukan plak lemak pada arteri. Itulah sebabnya banyak obat farmasi, seperti statin, digunakan dalam mengatasi hal ini.

Tetapi, terdapat pemikiran dan penelitian terkait hal ini, yang berfokus pada kolesterol “jahat” atau setidaknya memberikan argumen terhadap terapi statin.

Hipotesis penelitian

Penelitian yang dipublikasikan di British Medical Jurnal (BMJ) menyarankan sebaliknya. Penelitian ini, mengharapkan adanya evaluasi kembali terhadap pedoman kesehatan jantung.

Tim peneliti, terdiri dari para ahli dari tujuh negara yang berbeda, mengevaluasi data yang dikumpulkan dari 19 studi. Tim penelitian ini berusaha untuk menentukan apakah kolesterol LDL dikaitkan dengan kematian pada orang dewasa yang lebih tua.

Menurut hipotesis kolesterol, hal tersebut berhubungan. Namun, menurut penelitian BMJ, tidak.

Para peneliti mengatakan hampir 80 persen peserta dalam studi yang memiliki kolesterol LDL tinggi tidak mati karena kadar kolesterol mereka.

Di sisi lain, para peneliti menemukan orang dengan kadar kolesterol LDL yang rendah (LDL-C), memiliki tingkat kematian tertinggi terkait dengan penyakit kardiovaskular,  yaitu penyebab utama kematian untuk pria dan wanita di Amerika Serikat.

“Temuan ini memberikan kontraindikasi paradoks dengan hipotesis kolesterol.” tulis para peneliti. “hipotesis kolesterol memprediksi bahwa LDL-C dikaitkan dengan peningkatan semua penyebab dan kematian (Akibat penyakit kardiovaskular).”

Secara keseluruhan, para peneliti – empat diantaranya telah menerbitkan buku yang mengkritik hipotesis kolesterol – mengatakan “manfaat dari pengobatan statin telah di besar-besarkan”

Baca juga: Fakta Kolesterol LDL

Hipotesis kolesterol

Mereka yang menentang pentingnya kolesterol LDL mengatakan bahwa kami telah mengukur hal-hal yang salah.

Apa yang dipelajari para peneliti adalah bahwa kolesterol mungkin bukan indikator penyakit jantung dan kolesterol total (akumulasi tiga jenis lemak dalam darah) bisa menjadi metrik yang tidak berkaitan.

Bagaimanapun memperhatikan grafik trigliserida merupakan hal terbaik untuk memantau terkait dengan kesehatan jantung.

Lustig, seorang kritikus dari industri makanan olahan, meskipun tidak terlibat dalam penelitian BMJ, mengatakan bahwa hal tersebut membuktikan bahwa memiliki kolesterol LDL tidak masalah (bagi tubuh).

Tapi dia bukan orang pertama yang menyarankan hal tersebut.

Pada tahun 1960-an, terjadi perdebatan mengenai apa yang menyebabkan penyakit jantung. Terdapat dua kubu. Satu mengatakan gula adalah penyebab, sementara yang lain mengatakan lemak makanan, terutama lemak jenuh.

John Yudkin, seorang ahli fisiologi dan ahli gizi di Inggris, mendukung gula sebagai penyebabnya. Ancel Keys, seorang ilmuan amerika, sebaliknya, ia mendukung lemak makanan sebagai penyebabnya.

Keduanya melakukan penelitian, hingga pada tahun 1970-an, mendapati tiga temuan utama, menurunkan lemak sebagai musuh dari kesehatan jantung merupakan poin pertama.

Yang pertama, kata lustig, adalah masalah hiperkolesterolemia familial, penyakit genetik dimana orang tidak memiliki reseptor LDL di hati mereka, menyebabkan mereka meninggal karena serangan jantung pada awal masa remajanya.

Yang kedua, bahwa lemak makanan meningkatkan kolesterol LDL.

“itu benar, saya tidak memperdebatkan hal itu”, kata Lustig.

Argumen ketiga dalam argumen fat-is-bad, bahwa peningkatan kadar LDL pada populasi yang lebih besar berkolerasi dengan penyakit jantung.

“Itulah idenya, dan karena itu lemak adalah masalahnya, gula tidak.” Kata lustig dalam sebuah wawancara dengan Healthline.

Baca juga: Kolesterol LDL vs Kolesterol HDL

Pengukuran yang tepat

Sayangnya, yudkin tidak memiliki bukti yang dimiliki sekarang, dan lustig mengatakan argumennya bawa gula, bukan lemak adalah pelakunya, tetap benar sampai hari ini.

Sementara lemak makanan memang meningkatkan kolesterol LDL, terdapat dua macam.

Yang pertama dikenal sebagai pelampung besar LDL, tidak terkait dengan penyakit jantung, sedangkan kolesterol LDL kecil adalah “partikel atherogenik sejati.”

Karbohidrat, bukan lemak, meningkatkan kolesterol LDL padat kecil. Produk sampingan lain dari karbohidrat, gula khususnya, adalah trigliserida, yang berkolerasi lebih baik dan memprediksi penyakit jantung, kata Lustig.

“Jadi selama ini kami menggunakan pemahaman yang salah. Ternyata trigliserida jauh lebih buruk. Trigliserida pada dasarnya adalah apa yang hati anda lakukan terhadap gula.” Katanya. “Dan lagi, gula adalah masalahnya, Yudkin benar.”

Baca juga: Tes Kolesterol LDL

Add a Comment